Selasa, 09 Desember 2014

Keikhlasan Berbuah Kebaikan



Namanya Sudir, ia seorang anak yang rajin, baik hati, tidak sombong dan selalu ramah pada orang lain. Oleh karena itulah setiap orang di kampungnya sangat menyayanginya. Namun sayang kehidupannya sangat sederhana. Walaupun begitu ia tetap berbahagia.
Sudir tinggal di gubuk tua, disebuah desa yang cukup terpencil dan jauh dari kota. Setiap sore Sudir selalu menggembalakan kambing-kambingnya di padang rumput di sebelah utara desa. Ayahnya dengan susah payah selalu merawat kebun-kebun sayurnya di samping rumah, begitu juga ibunya selalu menanakkan nasi untuk makan mereka sehari-hari.
Suatu hari sepulang menggembalakan kambingnya, tiba-tiba kaki Sudir terantuk oleh suatu benda, segera diambilnya bungkusan itu, tanpa pikir panjang benda itu dirabanya,  barulah diketahuinya bahwa ia menemukan beberapa butir mata. Dengan bergetar dan rasa bahagia yang tiada tara, langsung saja dihitungnya mata-mata yang berada di tangannya. Ada lima butir mata.
Dua butir dipasangkannya pada kedua rongga matanya. Lalu ia berjalan pulang dengan bahagianya. Tapi tiba-tiba ia jadi termangu, dia baru menyadari kalau ia hanya memeiliki tiga butir mata lagi, sementara ayahnya memerlukan dua mata begitu juga ibunya. Ia akhirnya jadi bingung sendiri, kepada siapakah ia harus menyerahkan dua buah mata lagi, jika ia serahkan pada ibunya maka ayahnya hanya akan memiliki satu mata sementara tugas ayahnya sangat berat dalam mengurusi kebun-kebun sayurnya, sementara itu jika dua buah mata ia serahkan pada ayahnya, maka ia merasa tidak tega pada ibunya jika hanya memiliki satu mata saja. Jadilah Sudir semakin bingung sendiri.
Sesampainya dirumah dia langsung memangil ayah dan ibunya, lalu menyerahkan masing-masing satu buah mata pada ayah dan ibunya. Mulai sekarang keluarga itu sudah bisa melihat walau ayah dan ibu hanya punya masing-masing satu mata saja.
Sudir menjadi semakin bingung sendiri, kepada siapa harus diserahkannya satu mata lagi. Sementara jika satu mata lagi dibiarkanya tidak terpakai, hal itu akan mubazir. Karena sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, dibukanya satu matanya kemudian diserahkan satu pada ayahnya dan satu lagi pada ibunya. Demi ayah dan ibunya dia rela hanya memakai satu mata saja katanya dalam hati.
Satu minggu berlalu, semuanya berjalan seperti biasa, ayah bekerja di kebun, ibu mmemasak nasi di dapur dan Sudir menggembalakan kambingnya, tentu saja semuanya berjalan lebih mudah karena mereka sudah bisa melihat.
Oleh karena itulah timbul keinginan dalam diri Sudir untuk pergi merantau untuk mengubah nasib keluarganya, Sudir minta izin pada ibunya, awalnya permintaan Sudir itu tidak disetujui ibunya, namun Sudir sudah bertekad untuk melakukan niat dihatinya tersebut. Karena keinginan yang kuat itulah akhirnya ibunya menyetujui permintaan anak semata wayangnya.
Besoknya pagi-pagi sekali Sudir sudah berangkat meninggalkan rumah, dia merasa sedih sekali harus meninggakan kedua orang tuanya. Dia berjalan melewati hutan-hutan belantara, hal itu dilakukanya demi bisa menbahagiakan kedua orang tua yang sangat dicintainya.
Ketika melewati sebuah hutan, tiba-tiba Sudir dikejutkan oleh pekik Ayam hutan. Mendengar itu Sudir langsung saja mencari dimana letak sumber suara, ternyata suara itu tidak jauh dari tempat Sudir berdiri. Alangkah terkejutnya Sudir ketika melihat ayam tersebut sedang berada dalam cengkraman paruh burung elang. Melihat Sudir ada di situ, si ayam langsung minta tolong sama Sudir, “hai manusia tolong lepaskan cengkraman burung elang ini dari leherku,” kata Ayam dengan nada sedih.
Menyaksikan itu semua Sudir tidak sampai hati, dia tentu tidak bisa membiarkan mahkluk itu teraniaya. Karena Sudir merasa sesama makluk hidup itu harus tolong menolong. Sudir tidak bisa membiarkan ayam itu mati dimakan oleh elang tersebut.
Akhirnya tanpa pikir panjang Sudir langsung menolong si ayam dari cengkaraman burung elang sehingga si ayam bisa tebebas. Karena ketakutan, si ayam langsung pergi setelah mengucapkan terimakasih pada Sudir. Sekarang tinggallah berdua Sudir dan si elang yantg sedang kelaparanan.
“karena kau telah melepaskan dan membiarkan pergi makanan yang akan aku makan, maka aku meminta padamu untuk memberikan sekepal daging pahamu untuk peganjal perutku ini. Kau tentu tidak mau membiarkan aku mati kelaparankan? Ujar si elang sambil bertanya dengan nada sedih.
Akhirnya dengan penuh keikhlasan Sudir langsung menyayat daging pahanya untuk diberikan pada si elang. Setelah perutnya kenyang, si elang memberikan selembar daun pada si Sudir, “usapkanlah daun itu pada pahamu, agar darahnya berhenti dan luka itu segera sembuh.” Ujar si elang. Ternyata benar, luka Sudir sekejab menghilang tanpa bekas. “Untuk kau ketahui, daun yang kau pegang itu daun ajaib. Dia bisa menyembuhkan segala macam penyakit.” Ujar si elang lagi. Kemudian Sudir pun mengusapkan daun itu pada satu lagi matanya yang tidak bisa melihat, mata itu pun akhirnya bisa sembuh dan dapat melihat dengan baik.
Setelah itu si elang langsung pergi dan Sudir pun segera melanjutkan perjalanannya. Sampailah ia di sebuah kerajaan, Sudir merasa sangat senang sekali karena telah lelah tinggal di hutan selama di perjalanan. Tapi Sudir tidak menduga bahwa kerajaan itu sekarang sedang dikutuk oleh seorang penyihir jahat. Di kerajaan itu orang-orang tidak bisa merasakan perbedaan siang dan malam, sepanjang hari kerajaan tersebut terus menerus gelap. Matahari tidak bisa muncul dari ufuk timur.
Sudir bigung apa yang harus dilakukanya untuk menyelamatkan kerajaan tersebut. Tiga hari setelah itu, Sudir mendengar sayembara dari raja. Barang siapa yang bisa memusnahkan kutukan penyihir tersebut maka akan diberi hadiah, sebagai hadiahnya yaitu putri raja yang cantik jelita.
Malamya saat Sudir sedang tidur, dia pun bermimpi bertemu lagi dengan ayam hutan yang pernah ditolongannya dulu, “Besok, pagi-pagi kau datang saja ke galanggang sayembara itu, aku akan berkokok di sana, mudah-mudahan kutukan penyihir itu bisa hilang” ujar si ayam.
Pagi-pagi Sudir pun datang ke galanggang, ayam pun menepati janjinya. Dia berkokok dengan kerasnya, dan tak lama setelah itu, matahari yang ditunggu-tunggu akhirnya mulai muncul dari ufuk timur. Sehingga semua penduduk desa kini bisa merasakan siang lagi.
Melihat itu Sudir sangat berterima kasih pada ayam yang pernah ditolongnya dulu, ternyata ayam itu adalah ayam jelmaan dewa. Sudir merasa sangat senang bisa berbuat baik pada semua warga di sana dan terlebih lagi Sudir bisa mendapatkan istri yang cantik Jelita, putri dari raja tersebut.
Karena raja sudah tua maka Sudir dinobatkan sebagai pengganti raja tersebut. Sudir pun segera menjemput kedua orang tuanya di desa dan mengajaknya tinggal bersamanya di istana. Akhirnya mereka semua hidup berbahagia. Keikhlasan yang dilakukan Sudir benar-benar berbuah kebaikan untuk dirinya dan untuk keluarganya.*** Mira Elfia

Berikan Pelayanan Prima Sesuai Kewenangan dan Kompetensi

Bidan adalah salah satu profesi yang mulia. Seorang bidan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di tengah masyarakat. Tugas dan tanggung jawab bidan pun tidak mudah karenanya bidan harus memiliki dedikasi tinggi, handal, dan profesional.
Itu pula yang dilakukan dan dirasakan Tiara Sally, Bidan Puskesmas Air Santok, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman.
Menurut Sally, begitu ia akrab disapa, membantu ibu-ibu hamil melakukan persalinan dan melihat kehadiran bayi mungil dari perut bundanya itu merupakan kepuasan tersendiri bagi seorang bidan.
Menjalani profesi sebagai bidan, bagi Sally sudah merupakan cita-citanya dari kecil. “Inspirasi itu mungkin datang dari papa yang juga berprofesi sebagai tenaga medis,” ujar anak dari pasangan Drg. H. Johnny Basri dan Hj. Suarni Murad, S.H. M.Pd.
Sally mengungkapkan, menyenangkan sekali menjadi seorang bidan karena bisa langsung berinteraksi dengan masyarakat terutama ibu-ibu dan balita, serta kebahagiaan bisa berbagi ilmu dengan orang lain. “Salah satu peran bidan adalah mampu memberikan edukasi dan menyampaikan penyuluhan kepada masyarakat tentang kesehatan.” Ujarnya (16/6).
Di luar aktivitasnya sebagai seorang bidan, wanita yang selalu terlihat trendy ini adalah seorang ibu muda yang cukup telaten dan cekatan dalam mengasuh dan mendidik buah hatinya, berkah pernikahannya dengan Riswadi, S.E. “Bagi saya, anak dan keluarga adalah hal yang utama karena di tangan ibu-ibu seperti kitalah terletak masa depan dan pendidikan para generasi penerus bangsa.” ujar bidan yang telah mengaplikasikan pola pemberiaan ASI Eksklusif selama 0-6 bulan dan ASI 2 tahun untuk putra tercintanya.
Ke depan Sally berkeinginan, sebagai seorang bidan, dia akan memberikan pelayanan prima dan berkualitas kepada masyarakat, terutama ibu dan anak sesuai dengan kewenangan dan kompetensinya. “Yang penting selalu lakukan dan berikan yang terbaik.” ungkapnya sambil tersenyum ramah.
(*)Mira Elfia
Note. Profil ini dipublikasikan dalam Majalah Tabuik edisi 18 tahun 2014

Selasa, 25 November 2014

Kalau Yakin, Pasti Bisa


Oleh : Mira Elfia

Mencari sosok guru yang bisa dijadikan panutan dan sumber inspirasi itu tidak mudah. Namun, kali ini saya akan bercerita mengenai seorang guru yang bisa kita jadikan panutan dan inspirasi sehingga kedepan bisa menjadikan kita bisa berbuat lebih untuk kita dan untuk orang yang kita sayangi.

Kesan pertama yang dapat ditangkap dari figur guru ini, Dra. Elfi Junaida, M.Si., adalah sosok yang ramah, dan bersahaja. Guru yang kini dipercaya sebagai kepala sekolah SMA Negeri 3 Pariaman ini dikenal sebagai pribadi yang
Dra. Elfi Junaida, M.Si.
bersahabat dan mampu bersosialisasi dengan siapa saja.
Beliau pun mulai bercerita perihal berbagai prestasi yang pernah diraihnya, juara I guru berprestasi tingkat Kota Pariaman tahun 2006. Dengan prestasi ini pun, Bu Elfi kemudian diutus mewakili Kota Pariaman ke tingkat Sumatera Barat dalam ajang pemilihan yang sama dan berhasil menyabet juara II guru berprestasi tingkat provinsi masih di tahun 2006. Seperti yang diungkapkannya, Bu Elfi tidak pernah menyangka akan didaulat menjadi juara II guru berprestasi tingkat provinsi, sebab beliau harus bersaing dengan puluhan guru-guru hebat wakil kabupaten kota seluruh Sumatera Barat.
Beliau pun dituntut untuk membuat sebuah penelitian tindakan kelas dan mempresentasikan di depan dewan juri. Penilaian dewan juri tidak sampai di situ saja, seperti yang disampaikan Bu Elfi, beliau juga diminta membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kemudian juga dipraktikan di depan juri, sementara itu teman-teman peserta lainya didakwa sebagai siswa pura-pura. “Banyak dari guru-guru lain yang lebih hebat dan memiliki prestasi lebih dari saya!” Ujar Bu Elfi merendah. Namun penyajian dalam hal RPP-lah yang mengungguli beliau. Di situ Bu Elfi mampu menyajikan RPP dengan lebih menarik, menggunakan bahasa Inggris dengan media infocus untuk mengajarkan pelajaran Kimia yang dibidanginya. Lucunya, seperti yang disampaikan Bu Elfi, awalnya juri-juri menyangka beliau mengajar Bahasa Inggris, namun setelah dilihat-lihat lagi ternyata materi RPP yang disajikan adalah pelajaran kimia. “Mungkin disana letak keunggulan saya.” Ujar  Bu Elfi yang mampu mencapai angka 513 pada tes Toefl yang diadakan Balai Bahasa Padang.
Mengenai kegiatan lainnya di dunia pendidikan, guru yang sudah mengabdikan diri selama 23 tahun mengajar di SMA Negeri 1 Pariaman ini, tercatat pernah mewakili Sumatera Barat juga untuk magang ke Negara Australia dalam program pertukaran guru MIPA selama tiga minggu ke sebuah sekolah yang bernama Morley Senior High School. Bu Elfi mengujarkan, yang paling menarik dilihatnya di sana adalah budaya antre siswa di sekolah ketika istirahat. Mereka tidak pernah saling berebutan makanan di kantin sekolah, dengan tertib tiba-tiba sudah membentuk barisan panjang untuk mengambil dan membeli makanan. Selain itu, ada satu peristiwa yang mengelitik Bu elfi, saat seorang anak usia sekolah dasar memungut sampah dan menghantarkan sampah tersebut kepada seorang dewasa yang telah membuangnya sembarangan sambil mengatakan Sir, sorry... this is your rubbish! (Pak, maaf… ini sampah Anda!) “ Wah.. kalau disini mungkin anak itu sudah dijitak karena berani mencikaroi orang dewasa.” Ujar Bu Elfi sambil tertawa.
Lebih lanjut Bu Elfi menjelaskan bahwa kunci dari segala yang diraihnya sekarang sebagai seorang guru adalah keyakinan dan kerja cerdas. “Kalau kita yakin, pasti bisa.” Ujarnya bersemangat. Bu Elfi juga menegaskan tugas dan fungsi guru kian hari semakin bertambah berat. Guru harus mampu menjadi figur dan contoh teladan yang baik di tengah-tengah minimnya didikan kharakter dan banyaknya perbuatan yang tidak mencerminkan prilaku terdidik.
Guru yang menamatkan pendidikan S2-nya di Universitas Andalas ini juga menuturkan, pendidikan hendaknya dimulai sedini mungkin dari lingkungan keluarga dan berlanjut hingga lingkungan sekolah. Salah satunya, mengenai kedisiplinan yang harus mencakup semua sektor dan harus didukung oleh seluruh masyarakat, dengan begitu perwujudan sikap disiplin dalam pendidikan akan dapat dirasakan bersama-sama. “Contoh kecil saja, tidak akan ada lagi anak-anak yang tidak disiplin berada di luar lingkungan sekolah di saat jam pembelajaran berlangsung jika masyarakat pun telah ikut andil dalam menegakan kedisiplinan tersebut.” Ujar Bu Elfi.*** Mira Elfia

Senin, 18 Juli 2011

Tak Selamanya Cinta Bahagia

  Dimuat dalam Nagaswara Magazine, Juli 2011



“Maaf ya sayang, Mas, ga bisa datang, soalnya hujan deras bangat ne! Ga papa kan sayang”
“Iya. Ga papa lagi sayang.”
“Maaf ya sayang, baru balas, soalnya Mas tadi ketiduran. Ini aja, baru bangun sayang. Maaf ya sayang!”
“Iya, ga pa pa lagi sayang.”
“Malam sayang, maaf ya sayang, aku baru bisa menghubungi kamu sekarang, tadi Mas ga ada pulsa. Ne aja baru beli pulsa sayang. Maaf ya sayang.”
Dan untuk kesekian kalinya kata maaf tertulis di layar ponselku, dan untuk kesekian kalinya pula aku memberikan maaf padanya.
Aku benar-benar tak bisa berkata lain, selain memberikan kata maaf untuknya.
Aku tak tahu, entah apa yang dia punya hingga aku bisa bertekuk di hadapannya.
Aku yang terkenal di depan teman-temanku, super cuek, tidak perhatian, dan tidak pedulian bisa tertaklukan oleh cowok yang usianya tiga tahun di bawahku.
Aku sekarang sudah kuliah tahun tiga, hari-hariku benar-benar disibukan oleh masalah kuliah, tapi entah kenapa untuk Dimas aku selalu punya waktu.
Ya. Nama cowok itu Dimas, aku suka memanggilnya dengan setengah suku kata saja, yaitu Mas, sebenarnya tidak bermaksud memanggil kakak sihc, tapi kebetulan saja kok. Ketika ia disibukan dengan ujian UAN dan UASnya, aku sudah berkutat dengan diktat-diktat di tahun tiga perkuliahan. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa dekat dengan dia. Awalnya begini, Dimas itu sering nongkrong dengan teman-temannya di warung tempat aku sering menunggu angkot ketika pulang dari kampus, tentu saja dengan seragam SMAnya. Karena kita hampir bertemu setiap hari, akhirnya kita dekat.
“ Baru pulang kuliah kak!” itulah kata pertamanya menyapaku.
“Iya neh!” ujarku memberikan senyuman termanis yang kupunya. Dan tak bisa ku pungkiri senyumnya telah memikat hatiku.
Sejak hari itu hingga selanjutnya, kami selalu bercerta-cerita tentang apa saja yang terlintas di pikiran kami.
Aku tidak tahu kenapa aku merasa cocok dengan dia, apa pun yang kami bicarakan terasa nyambung, bahkan ke masalah kuliah dia mengerti. Melihat itu aku tidak heran, tak bisa dipungkiri anak SMA zaman sekarang sudah punya pemikiran luas, apalagi sekarang dunia informasi sudah berkembang, internet bisa diakses dimana-mana. Jadi aku tidak perlu terkejut apalagi merasa tersaingi. Dimas mampu mengimbangi, sekurang-kurangnya menyamakan pemikiranku walaupun aku sudah di tahun tiga perkuliahan.
***
Hari itu badanku panas. Aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah, aku memilih beristirahat saja di rumah untuk menyiapkan kondisiku untuk beraktifitas esok harinya. Berarti siang itu aku tidak bertemu Dimas.
Senja itu langit sedang menampakan cahaya jingganya, aku yang tengah asyik tiduran di depan televisi. Tiba-tiba mendengar ponselku berdering. Sebuah SMS.
“Malam kak Shera, ini Dimas, tahu khan? Mas Cuma mau bilang udah segede ini sakit masih berani ngampirin kakak ya.. he.. Ga kok Cuma bercanda, jangan marah ya, ntar sakitnya ga sembuh lagi. Ya udah cepat sembuh ya kak, trus minum obat yang teratur, trus apa lagi ya, istirahat yang cukup. Udah itu aja deh. Semoga cepat sembuh ya kak!”
Wow, dia mengirimkan SMS begitu panjang, aku tidak tahu berapa ratus karakter yang telah ditulisnya, yang jelas aku merasa seolah membaca sebuah surat saja.
Aku tidak tahu, ia mendapatkan nomorku dari mana, apalagi sampai mengetahui aku sakit begini. Aku benar-benar suprice menerima perhatian itu. Aku tidak menyangka dia bisa memperhatikan aku sejelimet itu, padahal beberapa bulan kita kenal aku tidak pernah mau memberikan nomor telepon pada Dimas.
Ah. namun aku tidak mau ambil pusing, temanku banyak yang sama-sama menunggu angkot di halte itu, bisa saja dia menanyakan pada salah satu temanku di situ.
Untuk balasan SMSnya itu, seperti ini.
“Malam juga Dimas, iya kakak tahu ini Dimas khan? Kalau tidak salah kakak cuma punya satu adek ketek (minang. red) yang bernama Dimas dan ia orangnya ngeselin abiz dech!”
“Memangnya ngeselin gimana sich kak, dia sering gangguin kakak ya, sering nyubitin kakak ya! Bilang sama Mas donk, biar Mas tonjok dia! he…”
 “Iya, soalnya dia telah nyubitin hatiku.” balasku tanpa pikir panjang. He… kekanakan banget khan! Aku memang tidak seharusnya berkata begitu. Hal itu sama saja telah menjatuhkan martabat dan harga diriku di depan dia. Ceiile! Namun itu sudah terjadi, dan sejak saat itu kami selalu SMSan.
Kadang aku merasa tersanjung oleh perhatian-perhatianya. Aku merasa seolah mendapatkan seteguk air di gurun Sahara, maklumlah aku sudah setahun ngejomblo, bukannya tidak ada yang mau tapi belum ada chemistry saja kali.
Sampai suatu ketika Dimas mengirimkan SMS seperti ini.
“Saat ku ingin pejamkan mata yang terbayang olehku adalah wajahmu
Saat ku ingin membuka mata yang terbayang oleh ku hanyalah senyummu
Semua yang kulakukan hanya kamu dalam benakku
Ku coba untuk menghindar kutak bisa
Ku coba untuk mendekat, ku layu
Sekarang aku hanya bisa berkata
Kau memang gadis yang telah membuat aku gila
Semyummu, tawamu, tatapanmu membuat aku rindu.”
Gracius…, aku sangat tersanjung sekali, aku benar-benar terbang, serasa di awan. Entah kenapa aku senang sekali menerima SMS itu, walaupun tidak puitis-puitis banget, tapi aku suka, mungkin inilah yang dinamakan orang cinta kali ya. Lalu aku balas SMSnya.
“Apa kamu yakin dengan kata-katamu. Aku ingin kamu meyakinkan ku dengan sesuatu.”
“I wiil do what ever you want, just for you, night and nice dream honey.” Balasannya sungguh membuat jantungku tak berdegup untuk beberapa saat. Malam itu aku tertidur dengan senyum di hatiku. Dan kami pun jadian.
Siang itu cuaca sangat menyengat sekali. Dosen yang maha killer telah membuat suasana hatiku menjadi tidak enak hari itu. Kasur empuk ku satu-satunya yang terpikirkan oleh ku saat itu. Sesampai di halte, aku tak sempat untuk memperhatikan siapa yang ada disampingku.
“Oo. Jadi lu dah berhasil macarin anak kuliahan itu?” ujar sebuah suara di balik warung kecil di tepi jalan itu.
“Ya iya lah. Masak ya iya donk! Dimas Githu lho!” ujar sebuah suara yang sangat aku kenal.
“Berarti kami harus menyiapkan uang dan mentraktir lo makan gratis selama seminggu di kantin sekolah donk!”
“Jelas donk! Gw kan sudah membuktikan kalau gw bisa, sekarang janji kalian mana?” ujarnya.
Aku sungguh tak tahu harus berkata apa, spontan tanpa pikir panjang aku lemparkan sekaleng minuman yang sedang aku pegang ke arah cowok yang berbicara terakhir itu, selanjutnya aku bergegas naik angkot.
Aku melihat Dimas berusaha mengejarku, namun rasanya hatiku sudah tak mampu lagi dia kejar walau dengan kata-kata macam apa pun. Dan segera saja aku kirimkan SMS “Kita PUTUS”
Aku benar-benar kecewa, aku tak tahu lagi harus melakukan apa. Aku menyadari cinta itu memang buta, seonggok sampah pun bila dilihat dengan cinta akan ada gunanya. Namun, untuk kali ini cinta telah menghancurkan segalanya. Ingin rasanya aku menyesal karena sudah tidak mendengar nasehat-nasehat sahabatku kalau ia bukan orang yang tepat untukku dan tidak berpikir matang untuk menerima cowok itu, namun aku tahu aku tak boleh menyesal.
Ini semua sudah terjadi, nasi sudah jadi bubur, walaupun cuma tiga minggu masa pacaran itu, tapi rasa ini sungguh membekas di hatiku. Aku dijadikan bahan permainan oleh anak kecil, aku tak pernah menyangka akan dijadikan bahan taruhan seperti itu. Aku benar-benar menyadari kegegabahanku. Dan dunia rasanya berputar di atas kepalaku.
Tiga hari aku tidak kuliah, aku dengar Dimas kecelakaan. Kata teman-temannya ia berusaha mengejarku saat kejadian itu untuk menjelaskan semua yang telah terjadi. Melalui teman-temannya pun aku tahu, kebersamaan kami telah membuat Dimas akhirnya benar-benar menyukaiku, namun hatiku telah benar-benar tertutup untuk itu. Biarlah ini berjalan sebagai mana biasanya. Aku tak yakin apa aku bisa kembali menerimanya, dan aku menyadari tak selamanya cinta itu bahagia. 
                        Agustus 2008
Pecundang cinta bertanya “Apakah masih ada cinta sejati di dunia?” Dan semoga kau mendapatkan apa yang kau pinta.

Perwujudan Pendidikan Karakter (Otak Cerdas, Karakter Baik)

Dimuat dalam Majalah Tabuik, Mei 2011


Saat ini, kita kerap kali melihat tayangan televisi memberitakan tentang tindakan-tindakan negatif. Mulai dari tawuran, penyerangan, penyalahgunaan narkoba, korupsi, kekejaman politik, mafia hukum, hingga pemberitaan seputar isu kebohongan pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Seolah berita itu telah menjadi santapan sehari-hari yang terkadang membuat kita dipaksa untuk memahaminya. Bahkan yang lebih membuat  bulu roma merinding adalah pemberitaan negatif itu tidak hanya datang dari lembaga-lembaga independen lainnya, namun juga berasal dari instansi yang kita sebut dengan sekolah. Sebuah lembaga tempat terselenggaranya proses pendidikan. Contoh konkret, dalam hal penyelenggaraan ujian nasional. Guru sebagai pengawas diminta untuk tutup mulut, mata, dan telinga atas tindakan-tindakan yang tidak sepantasnya untuk dilakukan.
Dan lebih menyedihkan lagi, teman saya bercerita bahwa salah seorang siswanya di sebuah sekolah dasar pernah mengungkapkan bahwa “Buat apa kita rajin-rajin belajar buk, toh.. tanpa itu, kita semua pasti akan lulus kan…? Ujar si anak. Seolah dari pernyataan anak tersebut dapat kita tangkap bahwa tanpa belajar keras pun, tanpa berusaha keras pun mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan “dibantu lulus” oleh pihak sekolah. Bayangkan, anak yang sekecil itu sudah memiliki paradigma yang salah terhadap konsep pendidikan.
Apa memang seperti ini karakter bangsa dewasa ini? Lalu mau dibawa kemana bangsa ini ke depan jika individu-individunya tidak lagi memiliki karakter. Bahkan orang dewasa, pejabat atau public figure yang seharusnya menjadi contoh teladan yang baik, ternyata sudah tidak mampu menunjukan perwujudan karakter dengan semestinya. Melihat kenyataan tersebut, kira-kira apa yang salah dalam konsep pendidikan kita sehingga karakter setiap individunya dari anak-anak hingga orang dewasa menjadi senang kecurangan, kebohongan dan tindak kekerasan.
Kalau kita cermati yang termaktub dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, nampaknya sudah jauh panggang dari api. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan, berdasarkan UU tersebut harus mampu mewujudkan pendidikan yang tidak hanya mementingkan kecerdasan otak saja, melainkan kecerdasan otak disertai karakter yang baik. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan Tuhan. Perwujudan dari karakter itu dapat dilihat dari sikap, pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan berlandaskan norma agama, hukum, sosial, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan yang berlandaskan karakter, menurut Akmad Sudrajat adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah (setiap individu) yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Jadi, pendidikan yang dilandasi pendidikan karakter akan mempersiapkan anak didik untuk mampu bertindak sebagai makhluk individu maupun sosial.
 Lebih lanjut Akmad juga menuturkan peserta didik (individu) yang berkarakter adalah individu yang mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan, dan mampu berinteraksi dengan masyarakat.
Untuk itu, perwujudan pendidikan karakter harus dilakukan sedini mungkin. Dimulai dari keluarga kemudian dilanjutkan pada lembaga pendidikan dari yang paling rendah hingga paling tinggi. Sekolah sebagai salah satu komponen pendidikan harus benar-benar berperan aktif dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter anak didiknya. Bila perlu sekolah harus merumuskan program atau kurikulum yang menunjang memaksimalkan pembangunan karakter anak didik. Mulai dari isi kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pemberdayaan sarana prasarana, dan etos kerja seluruh warga sekolah harus dilibatkan dan dioptimalkan fungsinya guna mewujudkan proses pendidikan karakter. Selanjutnya, guru sebagai pendidik pun harus senantiasa bekerja sama dengan orang tua dalam rangka menerapkan kebiasaan dan memberikan teladan yang baik kepada anak. Sebagaimana Joseph Joubert menuturkan, anak-anak lebih membutuhkan panutan, bukan kecaman.
Begitu juga, pemerintah dan semua pihak terkait sudah sepantasnya memberikan perhatian khusus pada hal tersebut, sebab karakter anak bangsa akan menentukan masa depan bangsa kelak. Pendidikan jangan terlalu berkutat pada hasil dengan diadakanya ujian nasional, tetapi hendaknya berorientasi kepada proses pendidikan itu sendiri. Sebab pendidikan dinilai dari proses bukan pada hasil.***
Mira Elfia, S.Pd* 
Penulis adalah Guru MTsN VII Koto dan Penyiar Radio Dhara FM Pariaman